18 Dec 2020

Coba ingat-ingat deh, mungkin sebagian orang ketika hendak pergi ke luar rumah, akan mengecek saklar lampu, kompor, listrik, dan jendela paling tidak sebanyak dua kali.
Nah, orang dengan OCD bisa melakukan hal itu setidaknya 5–7 kali Dear. Mereka akan cemas kalau tidak mengeceknya berulang-ulang
Simak artikel berikut ini untuk mengetahuinya lebih lanjut ya Dear, karena akan ada info kalau orang OCD ternyata bisa meminimalisir gejala OCD-nya sendiri lho!
Obsessive compulsive disorder atau OCD adalah gangguan kesehatan mental yang bisa terjadi pada siapa saja dan membuat seseorang merasa terobsesi atas sesuatu sehingga melakukan tindakan kompulsif atau berulang-ulang agar bisa menetralisir rasa obsesinya.
Baca juga: 5 Cara Sehat untuk Menangani Pikiran Negatif
Dear, penderita OCD mungkin memiliki gejala obsesi, kompulsi, atau keduanya. Gejala tersebut dapat mengganggu semua aspek kehidupan, seperti pekerjaan, sekolah, dan hubungan pribadi mereka.
Obsesi
Obsesi adalah pikiran atau dorongan yang tidak diinginkan dan mengganggu, sehingga memicu perasaan tertekan secara intens atau terus menerus dan berada di luar kendali seseorang.
Obsesi biasanya disertai dengan perasaan yang intens dan tidak nyaman, seperti takut, jijik, ragu, atau perasaan bahwa segala sesuatunya harus dilakukan dengan cara yang ‘tepat’ menurutnya.
Kompulsi
Sedangkan kompulsi adalah perilaku atau pemikiran berulang. Biasanya dilakukan seseorang dengan tujuan untuk menetralkan, melawan, atau membuat rasa obsesinya pergi. Kompulsi juga kadang bertujuan untuk menghindari situasi yang memicu obsesi.
Namun, melakukan kompulsi ini tidak membawa seseorang dengan OCD pada kesenangan dan hanya menawarkan kelegaan sementara dari kecemasan, karena sebentar kemudian perilaku ini akan terulang kembali.
Baca juga: Cara Cepat Move On dari Gebetan, Bye-Bye Galau!
Nah, tadi kan OCD memiliki dua gejala yaitu obsesi dan kompulsi, berikut ini adalah contoh tindakan obsesi dan kompulsinya.
Obsesi seringkali memiliki gejala seperti:
Sedangkan gejala kompulsi sebagai akibat dari obsesi seperti :
Beberapa orang dengan OCD juga memiliki gangguan tic. Tic adalah gerakan tiba-tiba, singkat, dan berulang, seperti mata berkedip yang lain dari biasanya, atau gerakan mata lainnya, wajah meringis, mengangkat bahu, dan menyentak kepala atau bahu.
Tic juga bisa terjadi pada suara, seperti suara kliring tenggorokan berulang, mengendus, atau mendengus.
Banyak orang dewasa dengan OCD menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak masuk akal. Namun, beberapa orang dewasa dan kebanyakan anak-anak dengan OCD tidak menyadari bahwa perilaku mereka di luar kebiasaan.
Baca juga: Sering Prokrastinasi? Begini 5 Cara untuk Tidak Lagi Menunda Pekerjaan
Penelitian menunjukkan bahwa OCD terjadi karena adanya kelainan neurotransmitter di otak dan dapat terjadi karena pengaruh gen.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa gen memainkan peran yang lebih besar saat OCD dimulai pada masa kanak-kanak (45-65%) dibandingkan saat dimulai pada masa dewasa (27-47%).
Penyebab gangguan obsesif-kompulsif belum sepenuhnya dipahami, tapi penelitian menunjukkan bahwa OCD disebabkan karena faktor:
OCD mungkin disebabkan oleh perubahan kimiawi alami tubuh atau fungsi otak seseorang.
OCD bisa terjadi karena ada kelainan gen, tetapi gen spesifiknya belum diketahui dengan pasti.
Baca juga: 5 Tahap Burnout Akibat Sering Kerja Lembur
Identifikasi Pemicu OCD
Langkah pertama dan paling utama untuk mengatasi gejala OCD adalah dengan mengenali pemicu, pikiran, atau situasi yang bisa menyebabkan obsesi dan kompulsi.
Misalnya, kalau perilaku kompulsif yang kamu rasakan adalah suka memeriksa berulang-ulang apakah pintu sudah terkunci, apakah jendela sudah tertutup, atau apakah kompor sudah dimatikan, maka kamu bisa mencoba untuk memberikan perhatian ekstra ketika kamu pertama kali mengunci pintu atau mematikan kompor.
Kamu bisa memberikan perhatian ekstra dengan mengatakan pada diri sendiri hal-hal seperti “baik, aku sekarang sedang menutup jendela, jendela sudah ditutup" atau "baik, aku sekarang sedang mematikan oven, ovennya sudah kumatikan."
Sehingga, ketika ada dorongan untuk berperilaku impulsif muncul, kamu akan lebih mudah untuk melabeli dorongan itu sebagai "ini hanya pikiran obsesif.”
Belajar menahan perilaku kompulsif
Tips kedua ini adalah terapi andalan profesional untuk kasus OCD lho Dear, yaitu dengan menahan perilaku kompulsif yang dikenal juga sebagai eksposur dan pencegahan respons atau (ERP).
ERP mengharuskan seseorang dengan OCD untuk berulang kali mendekatkan diri pada sumber obsesi dan kemudian menahan diri dari perilaku kompulsif yang biasanya dilakukan untuk mengurangi kecemasan ketika bertemu dengan sumber obsesi.
Jika kamu seorang OCD yang mencuci tangan berulang kali, kamu bisa mempraktikkan ERP dengan benda yang menimbulkan perilaku kompulsif, namun kamu mengkondisikan diri untuk tidak mencuci tangan.
Saat kamu kemudian duduk dengan rasa cemas, keinginan untuk mencuci tangan perlahan-lahan akan mulai hilang dengan sendirinya.
Dengan cara ini, kamu akan belajar bahwa kamu tidak memerlukan ‘ritual’ untuk menghilangkan kecemasan dan kamu akan sadar bahwa kamu memiliki kendali atas pikiran obsesif dan perilaku kompulsif yang kamu alami.
Baca juga: 5 Mindset Ini Bikin Kamu Gagal Merdeka Finansial
Tantang pikiran obsesif
Khawatir atau cemas adalah hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, orang dengan gangguan obsesif kompulsif menyebabkan otak terjebak pada kecemasan tertentu dan terus-menerus berputar-putar di kepala.
Seperti melawan kompulsi, kamu dapat mengatasi pikiran yang mengganggu dan obsesif dengan belajar untuk mentolerirnya melalui latihan ERP.
Ketika pikiran obsesif itu datang, fokuslah hanya pada pikiran atau dorongan negatif. Jangan mencoba memperbaikinya. Ketika rasa cemas sudah mulai berkurang, kamu bisa tarik napas hingga merasa tenang, lepaskan pikiran obsesif, dan kembali melakukan aktivitas biasa.
Cari dukungan sekitar
OCD adalah gangguan mental yang bisa menjadi lebih buruk saat penderitanya merasa tidak berdaya dan sendirian. Jadi, penting sekali untuk membangun sistem pendukung yang kuat.
Orang dengan OCD bisa bergabung dengan kelompok orang dengan OCD juga. Hal itu akan membuat mereka tidak merasa sendiri dalam berjuang dan bisa berbagi pengalaman dan belajar dari orang lain yang menghadapi masalah yang sama.
Mengelola stress sangat bermanfaat untuk menangani OCD
Meskipun stress tidak menyebabkan OCD, tapi stres dapat memunculkan gejala atau justru membuatnya semakin parah lho Dear.
Untuk mengatasi stress, kamu bisa praktikkan teknik relaksasi seperti meditasi mindfulness, yoga, atau latihan pernapasan dalam, dan teknik relaksasi lainnya yang dapat membantu menurunkan tingkat stres dan ketegangan.
Ada kabar gembira nih!
Kamu bisa melakukan meditasi di rumah saja dengan bantuan fitur meditasi di aplikasi Riliv lho! Selain itu, ada juga fitur bubble breath yang bisa membantumu berlatih mengatur pernapasan.
Nah, semoga informasi di atas bermanfaat ya. Ingat untuk tidak melakukan self diagnose, karena hanya psikolog atau psikiatri yang bisa melakukan diagnosa terhadap gangguan mental!
Referensi:
Ditulis oleh Annisa Abdillah dari Riliv.