Finansial

Perkembangan Peer-to-Peer di Berbagai Negara di Dunia

Kabrina Rian Ferdiani-

25 Sep 2020

Perkembangan Peer-to-Peer di Berbagai Negara di Dunia

Meskipun merupakan pendatang baru, namun ternyata layanan peer-to-peer lending berhasil menjadi produk finansial yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pasalnya keuntungan yang ditawarkannya cukup tinggi. Selain itu aksesnya juga lebih mudah karena berbasis digital. Sehingga ini sangat membantu para investor muda yang ingin belajar investasi.

Padahal sebenarnya perusahaan P2P lending awalnya bertujuan ingin memberi alternatif pinjaman kepada pelaku UMKM yang kesulitan mendapatkan bantuan keuangan dari perbankan. Sehingga hal ini membuat pertumbuhan fintech semakin meningkat setiap tahun. Bahkan sampai Agustus 2019 sudah ada 127 perusahaan fintech di Indonesia terdaftar OJK.

Penyebab kepopuleran peer-to-peer lending di Indonesia ini karena inklusi keuangannya masih rendah. Hal ini disampaikan oleh OJK dan sangat sesuai dengan data yang diberikan oleh Kementerian Koperasi. Karena lebih dari 50 juta UMKM umumnya belum bankable di Indonesia.

Sedangkan berdasarkan Aftech, yaitu Asosiasi Fintech Indonesia menyatakan bahwa kemunculan industri peer-to-peer lending di Indonesia karena penetrasi kredit di sini rendah. Lalu seperti apakah sejarah P2P lending yang ada di dunia? Di bawah ini adalah perkembangan P2P di belahan dunia, termasuk Eropa, Amerika, Tiongkok, dan Indonesia.


Baca juga: Ibu Rumah Tangga Juga Harus Pendanaan di Peer-To-Peer Lending


Sejarah Peer-to-Peer di Eropa dan Amerika

Pada dasarnya P2P lending yang pertama di dunia itu bermula dari Buckinghamshire, Inggris. Saat itu namanya adalah Zopa. Zopa didirikan oleh tim perusahaan internet banking sejak tahun 2004. Selanjutnya Egg Banking baru merilisnya di bulan Maret tahun 2005.

Sejak perusahaan ini didirikan, Zopa berhasil memberikan pinjaman sebesar USD 3,22 M kepada peminjam yang ada di Inggris. Tentu saja ini nominal yang cukup besar saat itu. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan peer-to-peer lending yang pertama di negara Inggris sangat bagus dan meningkat pesat.

Sedangkan perkembangan P2P lending di Amerika Serikat ini bermula pada tahun 2006 oleh Prosper dan Funding Circle. Saat itu mereka fokus untuk memberi pinjaman kepada perusahaan kecil. Selanjutnya perusahaan tersebut mulai berkembang dari Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat.

Dari awal kemunculannya, sudah banyak 40.000 pengusaha kecil terbantu oleh Funding Circle. Itulah sebabnya industri peer-to-peer lending sangat populer di Amerika. Alasannya adalah saat itu pada tahun 2008 terjadi dampak krisis secara finansial sehingga terjadi penutupan penyaluran kredit baru dan suku bunga mendekati 0%.

Hal ini dilakukan oleh pihak perbankan kepada deposan. Selain itu alasan kepopuleran P2P lending di Amerika karena pembatasan untuk kelayakan peminjam standar tarifnya sangat tinggi. Itulah sebabnya pihak investor menganggap jangka waktu pinjaman P2P lending cukup lama karena bisa sampai 3 tahun.


Sejarah Peer-to-Peer di Tiongkok

Di Tiongkok, kegiatan peer-to-peer lending secara online mulai dikenal pada tahun 2007. Keberadaannya cepat memikat para warga masyarakat karena bisa dijadikan sebagai sarana investasi modal usaha dan membantu memenuhi kebutuhan apapun. Selain itu di Tiongkok juga ada penawaran pinjaman tanpa jaminan pada sistem P2P lending.

Suku bunga yang ditawarkan bervariasi dari 8 sampai 10% setiap tahun. Tak heran bila kemudian pasar P2P lending meningkat pesat setiap tahun hingga sebesar 44%. Bahkan kabarnya di tahun 2018, jumlah lembaga fintech P2P lending mencapai 1.021 perusahaan di Tiongkok.

Peningkatan yang sangat pesat ini terjadi karena pemerintah tidak ikut campur tangan dalam industri tersebut. Jadi kehadiran peer-to-peer lending di Tiongkok menjadi seperti shadow banking. Karena termasuk celah irisan sistem perbankan yang memang ditetapkan pemerintah Beijing. Namun industri yang didukung pemerintah ini mulai dibersihkan.

Sejak peningkatan yang drastis membuat resiko terhadap kriminalitas dan penipuan semakin besar. Sehingga dibuatlah peraturan yang semakin ketat untuk perusahaan fintech. Jadi khawatir dengan penipuan berkedok P2P lending yang semakin banyak membuat pemerintah Tiongkok menginspeksi industrinya secara langsung.

Salah satunya dengan mengecek profil investor dan menutup perusahaan fintech P2P lending bila menyalurkan pinjaman beresiko tinggi. Karena telah memakai skema ponzi. Selain itu, pemerintah juga turut memberikan batasan pinjaman untuk setiap individu maksimal 1 juta yuan. Sedangkan pinjaman untuk UMKM maksimal 5 juta yuan.


Sejarah Peer-to-Peer di Indonesia

Di Indonesia sendiri ternyata proses masuknya industri P2P lending ini belum diketahui kapan pastinya. Namun jika melihat dari peraturan OJK tentang layanan pinjam meminjam uang menggunakan teknologi informasi, maka kemunculan P2P lending sepertinya sudah ada sejak tahun 2016.

Salah satu perusahaan P2P lending yang memberikan alternatif investasi dan terdaftar OJK adalah Modal Rakyat. Modal Rakyat merupakan perusahaan P2P lending yang siap menghubungkan antara pendana dengan peminjam. Dalam hal ini investor bisa mendapatkan keuntungan yang cukup besar setiap tahun.

Sehingga hal ini memberikan dampak sosial yang baik dan sejahtera untuk seluruh warga Indonesia. Bahkan saat ini Modal Rakyat telah membantu banyak orang khususnya pelaku usaha UMKM dalam mengembangkan usahanya di saat modalnya terbatas. Untuk itulah layanannya dipilih karena peminjam tidak harus bertemu pemodal secara langsung.

Mereka bisa menggunakan sebuah sistem P2P lending berbentuk website atau aplikasi sehingga prosesnya lebih cepat dan efisien dari segi waktu. Untuk cara kerjanya terbagi 2 bagian. Yaitu dari segi peminjam dan investor. Umumnya keduanya tinggal mendaftarkan diri lewat website  lalu melakukan investasi atau mengajukan pinjaman.

Dalam hal ini Modal Rakyat bisa menjadi salah satu alternatif investasi P2P lending yang sangat menjanjikan bagi para investor. Karena jumlah keuntungan yang ditawarkan sangat beranekaragam. Mulai dari 15 hingga 25% per tahun. Sehingga investasi peer-to-peer lending ini cocok sekali untuk investor milenial.


Baca juga: 11 Film yang Mengajarkan Kita Tentang Keuangan

Artikel Terkait
image image
Artikel Baru