Gaya Hidup

Tips Mengatur Keuangan saat Gajian

Adjie Sudradjat-

18 Dec 2018

Tips Mengatur Keuangan saat Gajian

Tinggal di Jakarta dengan gaji 5 juta per bulan, Rian yang berprofesi sebagai karyawan swasta sering sekali dipusingkan oleh pengeluaran mendadak yang muncul di akhir bulan. Padahal, hampir setengah dari gaji bulanannya sudah habis untuk membayar sewa kos dan cicilan motor. Belum lagi ketika harus pergi dengan pacar atau teman-teman di akhir pekan, pengeluarannya selalu membengkak. Disaat yang sama, Rian juga harus mengirim uang untuk membantu orangtuanya.


Dengan semua pengeluaran ini, rencana berlibur seadanya ke Bali terasa sangat mahal, apalagi untuk mulai memikirkan biaya pernikahan dan cita-cita membeli rumah atau apartement sendiri. Kenyataannya, Rian hanya bisa menyisihkan sedikit penghasilannya untuk ditabung. Setiap hari, Rian hanya bisa membayangkan, betapa bahagianya hidup jika gajinya bisa mencapai 10 juta.


Sayangnya, tanpa dia sadari, jutaan orang dengan penghasilan 10 juta keatas pun tetap memiliki masalah yang sama.


Bicara tentang gaji memang tidak ada habisnya, selalu saja terasa kurang. Tapi sebenarnya, berapapun gaji kita, akan selalu terasa kurang jika tidak dibarengi dengan pengaturan pengeluaran dan pemasukan yang baik. Prinsip yang sama bisa diterapkan untuk mereka yang memiliki penghasilan ratusan juta per bulan, hingga mereka yang berpenghasilan dibawah 5 juta per bulan. Hanya perbedaannya, mereka yang berpenghasilan besar memiliki fleksibilitas lebih dalam mengalokasikan pemasukannya. Berikut prinsip-prinsip yang bisa kamu perhatikan dalam mengatur pemasukan dan pengeluaranmu:


1. Buatlah Rencana Pengeluaran Bulanan yang Realistis untuk Diikuti


Banyak yang menyarankan agar kita membuat perencanaan pengeluaran bulanan yang mendetail dan kaku, namun kenyataannya sering kali pengeluaran datang tanpa diduga. Selain itu, kita juga perlu sedikit menikmati hidup agar kemudian tidak menjadi stress atau sakit, yang tentunya bisa menjadi pengeluaran tambahan tersendiri.

Lebih baik, alokasikan penghasilanmu untuk kategori-kategori pengeluaran umum yang ada. Contoh, dengan gaji 5 juta per bulan, kamu bisa mengalokasikan 1,5 juta untuk sewa kos, 500 ribu untuk cicilan motor atau biaya transportasi, dan 1,5 juta untuk makan dan minum. Artinya, selama pengeluaran makan, minum dan gaya hidup lainnya masih dibawah 1,5 juta per bulan, kamu tidak perlu terlalu khawatir dengan harga makanan atau minuman yang dibeli, karena akhir pekan yang agak boros bisa diimbangi dengan akhir pekan selanjutnya yang hanya sekedar beristirahat di kosan sambil menonton YouTube.


2. Hati-hati Dengan Pengeluaran Harian Yang Terkesan Kecil


Sering kali kita berkata bahwa harga suatu barang “ah, murah kok”, tanpa menyadari bahwa barang tersebut dibeli hampir setiap hari. Sebagai contoh, kopi seharga 30 ribu hingga 50 ribu yang dibeli dari outlet tertentu memang mungkin terasa murah, tapi tanpa terasa, dalam sebulan mungkin kita bisa menghabiskan 1 sampai 1,5 juta untuk membeli kopi tersebut.


Contoh lainnya adalah rokok, atau bahkan barang-barang virtual dari mobile games yang kita mainkan. Seringkali mereka terasa murah ketika dibeli, tapi sebenarnya akan menjadi pengeluaran yang besar tiap bulannya, apalagi jika memang kita merokok atau memainkan mobile game tersebut secara rutin.


3. Sadari Bahwa Gaya Hidup Tidak Harus Ikut Naik Seiring Dengan Penghasilan


Banyak sekali orang yang tidak merasa “kaya”, atau tidak memiliki tabungan, aset, dan investasi yang berarti bahkan ketika penghasilan mereka sudah naik berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya. Biasanya, ini karena orang tersebut meningkatkan “gengsi” nya dengan mengeluarkan lebih banyak uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak esensial, seiring dengan peningkatan penghasilannya.


Sebagai contoh, Rian yang tadinya berpenghasilan 5 juta per bulan kini berpenghasilan 10 juta perbulan setelah pindah ke kantor baru. Rian langsung membeli handphone baru, menjual motornya dengan menggantinya dengan mobil yang juga dicicil, pindah ke kosan yang lebih bagus, dan mengganti rencana liburannya ke Bali dengan jalan-jalan ke Jepang. Rian juga sekarang sering nongkrong di restoran-restoran mahal, dan sudah tidak pikir panjang ketika akan mengeluarkan uang untuk rokok atau mobile game favorit nya.


Akibatnya, di akhir bulan, Rian kembali menghadapi masalah yang sama ketika dia hanya berpenghasilan 5 juta per bulan: hanya sedikit sekali dari penghasilannya yang bisa ditabung atau diinvestasikan.

Sebenarnya, hal-hal diatas tentu sah-sah saja, toh kita bekerja juga untuk menikmati hidup. Yang perlu diperhatikan adalah, pastikan bahwa rasio dalam persentase penghasilan yang bisa ditabung atau diinvestasikan terus bertambah seiring dengan peningkatan penghasilan, bukannya tetap atau malah menurun.


Contoh, jika dengan gaji 5 juta kita bisa menyisihkan 20% (1 juta) untuk tabungan atau investasi, harusnya dengan gaji 10 juta kita bisa menyisihkan 30% (3 juta) untuk tabungan dan investasi. Jatah pengeluaran tetap meningkat dari 4 juta ke 7 juta, yang tentunya masih sangat wajar.

Dengan rajin memperhatikan rasio ini, kita harusnya bisa menyesuaikan gaya hidup dengan bijak.


4. Kenali Produk Tabungan dan Investasi yang Cocok Dengan Pola Keuangan Kita


Banyaknya pilihan produk Tabungan atau Investasi diluar sana sering membuat kita kebingungan. Yang terjadi malah sisa penghasilan tiap bulannya hanya berdiam di rekening bank, karena kita tidak bisa membuat keputusan. Perlu kamu ketahui, uang yang dibiarkan mengendap di rekening bank adalah salah satu hal yang terburuk yang bisa kamu lakukan dalam konteks pengaturan keuangan, karena nilai dari uang tersebut akan terus menurun yang diakibatkan oleh inflasi. Uang tersebut juga tidak menghasilkan bunga ataupun disalurkan untuk mendukung roda perekonomian, sehingga menjadi tidak produktif.


Baiknya, hanya sisihkan jumlah yang pas untuk kebutuhan sehari-sehari di rekening bank kamu. Sisanya, bisa kamu salurkan ke produk-produk Tabungan atau Investasi yang sesuai. Untuk Tabungan, produk yang umum dipakai adalah Deposito Berjangka yang bisa memberikan bunga 5% hingga 7%, tergantung dari jangka waktu dan bank yang dipilih. Kamu juga bisa menggunakan produk Deposito dari BPR (Bank Perkreditan Rakyat), baik yang umum maupun Syariah, agar bisa mendapatkan bunga dari 7% hingga 9%. BPR biasanya akan memberikan bunga yang sedikit lebih tinggi karena mereka harus bersaing dalam menggalan dana masyarakat dengan bank umum lainnya.


Untuk Investasi, produk yang umum dipakai adalah Surat Hutang Negara, Reksadana, atau Asuransi yang memiliki komponen investasi (Unit Link). Bagi mereka yang mengerti seluk beluk pasar saham atau mata uang asing juga bisa mencoba membuka trading account melalui broker yang terpercaya untuk kemudian melakukan jual-beli saham ataupun mata uang asing untuk mencari keuntungan. Prinsipnya adalah: beli ketika harga sedang murah, jual ketiga harga sedang mahal.


Kami dari Modal Rakyat tentunya menawarkan pilihan investasi yang juga tidak kalah menarik, dan tetap aman. Melalui platform kami, kamu bisa menyalurkan dana pinjaman untuk UMKM pilihan kami yang dapat memberikan imbal balik yang sangat menarik, yaitu di kisaran 12% hingga 20%. Jangka waktunya pun cukup singkat: dalam 1 hingga 3 bulan kamu sudah bisa mendapatkan lagi pokok dana yang kamu pinjamkan beserta imbal baliknya. Keamanan dana pinjaman kamu pun terjamin dengan adanya lapisan-lapisan perlindungan yang disediakan oleh Modal Rakyat.


Produk apapun yang dipilih, pastikan bahwa kita memanfaatkan peluang untuk menginvestasikan kembali keuntungan yang dihasilkan. Ini akan berdampak sangat besar terhadap hasil akhir dari investasi kamu, yang juga dikenal dengan istilah compound interest.


Baca juga: Pengertian Investasi dan Pentingnya Berinvestasi Sejak Dini


5. Fokuskan Waktu Luang untuk Pengembangan Karir, Pendidikan, dan Diri Sendiri


Tentu semua prinsip diatas akan memiliki manfaat berlipat apabila penghasilan yang dimiliki pun juga besar. Bagi mereka yang berkarir sebagai professional, pastikan bahwa fungsi dan industri yang ditekuni sekarang merupakan fungsi dan industri yang memang memiliki potensi besar untuk tumbuh di masa sekarang dan masa depan.


Bagi mereka yang berkecimpung di bidang yang teknis atau sebagai spesialis, melanjutkan pendidikan ke arah yang lebih lanjut di bidang yang relevan akan dapat meningkatkan penghasilan untuk jangka menengah dan panjang. Bagi mereka yang berada di area yang lebih umum atau sebagai generalis, pendidikan MBA (Master of Business Administration) di universitas atau sekolah yang memiliki reputasi baik sudah terbukti dapat meningkatkan penghasilan dan pilihan karir secara signifikan, yang tentunya juga harus dibarengi dengan komitmen, konsistensi, dan jaringan yang mendukung.


Tentang penulis:


Wafa Taftazani bekerja di Google sebagai Country Strategic Partnerships Manager untuk YouTube, dan merupakan salah satu Co-founder sekaligus Komisaris di Modal Rakyat, dua aktivitas yang ditekuninya setelah mendapatkan gelar MBA dari Cambridge University dengan beasiswa penuh dari LPDP, dan Sarjana Ilmu Politik dengan fokus Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan. Wafa memulai karirnya sebagai bankir korporasi dan investasi di The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, dan sebagai Business Development Manager di Shopee. Wafa juga pernah menjadi konsultan untuk Kementrian Luar Negeri RI, Grab dan CNBC. Wafa juga aktif di dunia sosial-politik, dimana dia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, dan sebagai anggota dewan pengurus Indonesian Youth Diplomacy, dimana dia 2 kali mewakili Indonesia sebagai delegasi muda di G20 Summits Turkey dan China. Wafa telah menerima berbagai penghargaan tingkat nasional maupun internasional dari pemerintah, institusi pendidikan, media, hingga perusahaan teknologi global.




Artikel Terkait
image image
Artikel Baru