10 Jul 2020

Semakin besar penghasilan seharusnya semakin sehat pula keuangan seseorang. Namun, bagaimana jika situasi yang terjadi justru sebaliknya? Gajimu lumayan tinggi namun keuanganmu justru semakin seret alias menipis. Hal ini sering kali menimbulkan kebingungan pada kelompok milenial. Kira-kira apa penyebabnya?
Baca juga: 5 Cara Sehat untuk Menangani Pikiran Negatif
Milenial memiliki pemikiran dan gaya hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya – contoh baby boomers yang identik dengan ‘generasi mama papa’. Tanpa disadari, lifestyle yang mereka usung di mana mengedepankan kemudahan dan kepraktisan, justru menjadi penyebab tidak sehatnya kondisi finansial mereka meskipun penghasilannya tidak sedikit. Apa saja?
Jujur saja, berapa banyak milenial yang memiliki tujuan pasti dalam hidupnya terkait masa depan? Mayoritas milenial terlalu santai menjalani hidup hingga tidak memiliki target tertentu. Padahal, tujuan ini dibutuhkan agar seseorang memfokuskan diri meraihnya. Jika tidak ada yang ingin kamu capai, otomatis kamu menjadi sangat loyal dalam membelanjakan uang.
Tren gaya hidup glamor serta berburu sesuatu bukan berdasarkan asas manfaat melainkan dari nilai instagramable-nya sudah pasti mudah membuat uang menipis dalam tempo singkat. Kamu tidak terlalu memerlukannya dari segi fungsi namun benda itu cantik untuk dipamerkan di sosial media sehingga asal membelinya.
Salah satu kebiasaan buruk lain yang menjadi gaya hidup populer milenial adalah menggampangkan utang. Bukan hanya pinjaman pribadi, tetapi juga dalam penggunaan layanan-layanan berbayar nanti (paylater). Pada saat pelunasan terkejut karena tagihan berlipat-lipat akibat denda keterlambatan pembayaran.
Suka maupun tidak, faktanya tabungan juga penting untuk dimiliki agar keuanganmu tidak mudah seret. Jadikan tabunganmu sebagai aset, bukan untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, sebisa mungkin meminimalisir tabungan itu berkurang, namun memperbesar kans isinya lebih banyak. Kamu akan terhindar dari kebangkrutan jika memiliki uang simpanan seperti itu.
Faktor terakhir yang menyebabkan gaji milenial seolah ‘numpang lewat’ saja yaitu keengganan mereka untuk mencoba sektor investasi. Hal ini wajar mengingat milenial sangat anti dengan hal-hal yang rumit di mana investasi termasuk dalam kategori tersebut. Padahal, investasi memberikan banyak sekali manfaat.
Kamu tentu tidak ingin mengalami kondisi finansial yang seret seperti itu, ‘kan? Terlebih jika berlangsung hingga hari tua yang membuat hidupmu tidak nyaman. Tenang saja, ada kiat-kiat jitu yang dapat kamu praktikkan untuk menyelamatkan gajimu agar tidak sekadar mampir saja :
Pastikan kamu memiliki target yang besar untuk dicapai di masa depan. Semakin besar goal yang ingin dicapai, akan semakin disiplin dan bijak pula kamu dalam menggunakan uang. Tidak masalah kamu merencanakan hal-hal besar seperti memiliki rumah, kendaraan, dan bisnis pribadi demi kenyamanan di hari tua.
Jika memungkinkan, sebisa mungkin kamu harus menghindari terikat utang. Kecuali jika tujuan pinjaman tersebut untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, maka tidak masalah. Namun untuk penggunaan bersifat konsumtif, lebih baik dihindari. Jika sudah terlanjur memiliki utang, pastikan membayar cicilan atau melunasinya tepat waktu.
Kamu mungkin mengernyitkan dahi mendengar istilah tabungan tidak bergerak. Maksudnya adalah jenis tabungan yang tidak bisa kamu ambil dan pakai sesuka hati. Deposito merupakan contoh simpanan ini sebab terdapat jangka waktu pengambilan dengan bunga yang cukup besar. Jadi, uangmu aman dan justru semakin bertambah.
Terakhir, supaya finansialmu aman, jadikan investasi sebagai sebuah kegiatan rutin. Biasakan untuk menyisihkan pendapatan bulanan kamu sebagai modal. Jadi, profit yang didapatkan melalui investasimu juga terus bertambah dari waktu ke waktu. Sebuah peluang untuk menggandakan uang yang tentu tidak ingin kamu lewatkan, bukan?
Kamu tertarik untuk berinvestasi supaya gajimu tidak mudah habis? Maka itu, kamu wajib memulainya sedini mungkin. Dalam berinvestasi, kamu bisa memilih cara mandiri atau memercayakan pada vendor. Investasi mandiri seperti membeli properti tanpa broker dan emas untuk disimpan. Sedangkan investasi bervendor contohnya forex dan saham.
Namun, pilihan investasi properti dan emas mungkin tidak terpikirkan di benakmu karena dana yang dibutuhkan cukup besar walaupun sangat aman. Sementara forex dan saham memiliki risiko yang tinggi meskipun bisa dimulai dengan modal kecil. Namun, bagaimana jika ada investasi bervendor yang aman dan tidak membutuhkan modal besar?
Investasi simpanan emas adalah jawaban yang kamu butuhkan. Jenis investasi ini menggabungkan antara metode tabungan konvensional, namun yang tercatat bukanlah uang dengan bunga melainkan sejumlah emas yang kamu beli melalui penyetoran dana segar. Konsep investasi kekinian yang cocok untuk milenial ini ditawarkan oleh IndoGold.
IndoGold merupakan perusahaan investasi dengan pengalaman khusus untuk objek logam mulia emas selama lebih dari dua dekade. Bermula dengan model investasi konvensional, IndoGold kini merambah sektor fintech yang lebih praktis dan diminati generasi milenial. Cukup dengan mendaftar keanggotaan kemudian menginstalasi aplikasi, investasi berada dalam genggaman.
Klaim pengalaman tentu tidak cukup jika tidak dibarengi dengan legalitas usaha yang jelas dan jaminan sekuritas. Kamu tidak perlu khawatir karena IndoGold memiliki SIUP dan diawasi oleh OJK. Sehingga, semua transaksi sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku serta keamanan bagi nasabah juga terjamin. Menenangkan sekali, bukan?
Bagaimana dengan dana yang harus disediakan? Tidak perlu was-was, karena hanya dengan Rp10.000,- saja, kamu sudah bisa memiliki tabungan emas pribadimu. Rutin menambah modal investasi emas setiap bulan pasti akan membuat kondisi keuanganmu semakin baik. Investasi emas di IndoGold merupakan solusi terbaik mencegah finansialmu jadi seret, ‘kan?
Baca juga: Waspadai Gangguan Kesehatan karena Duduk Lama saat WFH