Finansial

Inilah Risiko Investasi Obligasi yang Patut Anda Waspadai

Kabrina Rian Ferdiani-

20 Nov 2020

Inilah Risiko Investasi Obligasi yang Patut Anda Waspadai

Setiap investasi, termasuk obligasi, pasti memiliki risiko yang harus dihadapi oleh para pemegangnya alias investor. Aktivitas menanamkan modal alias investasi bagian pisau bermata dua. Di mana satu sisi adalah keuntungan, dengan sisi lainnya berupa risiko kerugian. Keduanya berjalan beriringan dalam satu hal yang disebut investasi.

Maka, setiap pelakunya yaitu investor wajib menyadari keberadaan dua hal tersebut. Bukanlah sesuatu yang bijak jika Anda berinvestasi hanya memikirkan keuntungannya semata. Karena itu dapat membuat Anda mengambil keputusan secara sembarangan dan tidak terarah. Akibatnya, intaian risiko yang tidak diantisipasi sebelumnya justru membuat modal Anda lenyap begitu saja.

Oleh sebab itu, faktor risiko menjadi aspek yang tidak boleh disepelekan saat seseorang hendak menginvestasikan dana di instrumen manapun, baik itu saham, obligasi, emas, reksa dana, bahkan properti sekalipun. Memiliki surat utang juga tidak lepas dari risiko investasi. Nah, agar lebih waspada sebaiknya Anda mengenali beberapa risiko berikut ini. 


Baca juga: Investasi vs Menabung, Ketahui 6 Perbedaannya Berikut Ini


Risiko Likuiditas dalam Investasi

Likuiditas dalam investasi bisa diartikan sebagai tingkat kemudahan saat hendak membeli ataupun mencairkan (menjual kembali) aset investasi, baik berupa fisik (riil) maupun keuangan. Likuiditas menjadi salah satu pertimbangan penting saat seseorang akan berinvestasi. Semakin likuid, maka pencairan dana bisa semakin mudah dilakukan.

Dalam penanaman modal di obligasi, investor dapat menjumpai risiko likuiditas. Risiko likuiditas bisa terjadi ketika pemegang surat utang kesulitan melakukan penjualan kembali di pasar sekunder. Akibatnya, saat memerlukan uang dalam waktu mendesak juga tidak bisa diatasi. Kesulitan jual bisa disebabkan adanya penurunan harga.

Apabila harga jual obligasi di pasar mengalami penurunan dibanding harga belinya, secara otomatis investor mengalami kerugian. Kondisi ini dikenal dengan istilah capital loss. Saat terjadi penurunan harga, tentu investor tidak bisa mendapatkan dana sesuai yang diinginkan. Jika terpaksa menjualnya, maka investor mengalami kerugian finansial.

Namun risiko ini bisa diatasi dengan mengambil langkah alternatif yang tepat. Salah satu keuntungan pemegang surat utang adalah dapat menjadikannya sebagai agunan alias jaminan. Dengan demikian, Anda bisa memperoleh uang (pinjaman) tanpa harus menjual aset keuangan tersebut di bawah harga wajar. Ini adalah solusi yang bisa menjadi pertimbangan.


Terjadinya Risiko Pasar

Hal kedua yang perlu diwaspadai pemegang obligasi adalah risiko pasar. Risiko pasar memiliki kaitan yang erat dengan fluktuasi harga di pasar keuangan. Terjadinya perubahan atau harga yang fluktuatif dapat terjadi akibat banyak faktor ekonomi makro. Misalnya adanya inflasi yang terus meningkat di suatu negara sehingga membuat harga aset keuangan menurun.

Saat pemegang surat utang menjual kembali asetnya dengan harga rendah bahkan di bawah wajar, maka ia mengalami kerugian (capital loss). Penurunan harga ini bisa terjadi akibat beberapa faktor. Misalnya tingkat suku bunga yang menurun, terdapat perubahan kondisi perekonomian seperti krisis, hingga situasi politik tidak stabil di suatu negara.

Kerugian akibat penurunan harga juga bisa terjadi jika obligasi yang Anda miliki dijual kembali sebelum masa jatuh tempo tiba. Surat utang yang belum jatuh tempo jika dijual di pasar sekunder biasanya harganya lebih rendah dibanding harga wajar. Oleh sebab itu, investor harus memikirkan dengan matang sebelum menjualnya kepada pendana lain.


Baca juga: Inilah Risiko Investasi Obligasi yang Patut Anda Waspadai


Terjadinya Risiko Gagal Bayar

Risiko berikutnya yang perlu diwaspadai oleh pemegang obligasi adalah terjadinya gagal bayar. Gagal bayar adalah kondisi di mana pihak yang menerbitkan surat utang tidak mampu membayar kembali pokok beserta kuponnya hingga tanggal jatuh tempo tiba. Bukan mustahil suatu perusahaan mengalami situasi tertentu sehingga menyebabkan kondisi keuangannya tidak sehat.

Hal ini membuat perusahaan yang bersangkutan tidak bisa membayarkan utang kepada debitur atau pendana. Tentunya risiko gagal bayar ini sangat merugikan pendana karena bisa kehilangan sebagian bahkan seluruh nilai pokok investasi obligasi. Untuk itu, investor harus berhati-hati dalam memilah perusahaan penerbit surat utang.

Meski demikian, risiko gagal bayar hanya terjadi pada obligasi yang diterbitkan oleh selain negara. Pantas saja jika imbal hasil yang ditawarkan umumnya lebih tinggi dibanding surat utang negara karena risikonya memang terbilang besar. Apabila Anda berniat menanamkan modal di surat utang korporasi sebaiknya lebih berhati-hati. 

Sedangkan obligasi yang diterbitkan oleh negara tidak mempunyai risiko gagal bayar dikarenakan terdapat jaminan atas pembayaran  berupa nilai pokok investasi beserta kuponnya. Jaminan ini tertuang dalam Undang-Undang sehingga investor tidak perlu khawatir. Apabila Anda ingin investasi lebih aman, sebainya memilih jenis ini meskipun return lebih rendah.


Mengenal Profil Risiko Investor

Saat menginvestasikan dana di suatu instrumen, seorang pendana tidak hanya perlu mempertimbangkan risiko yang ada pada instrumen tersebut saja. Akan tetapi, seorang pendana juga mempunyai profil risiko yang berbeda dengan lainnya. Profil ini didasarkan pada karakteristik investor saat menanamkan modal. 

Ada tiga jenis profil risiko yang perlu diketahui, yaitu konservatif, moderat, dan agresif. Investor yang konservatif umumnya menempatkan dana di obligasi dalam jangka pendek selama 5 tahun atau kurang. Tipe investor ini lebih berhati-hati dan belum siap dengan investasi berisiko tinggi. Sedangkan investor moderat umumnya mengambil jangka menengah.

Yakni obligasi dengan jangka waktu 5 hingga 10 tahun. Sementara itu, pendana yang memiliki profil risiko agresif memiliki keberanian lebih untuk menempatkan dana dengan jangka lebih dari 10 tahun. Sebelum melakukan investasi, ada baiknya jika Anda mengetahui profil risiko sendiri agar tidak salah strategi.

Ada lagi jenis investasi lain yang memberikan keuntungan 15-25% per tahun yaitu P2P Lending Modal Rakyat. Hanya dengan Rp25.000, Anda sudah bisa berinvestasi dan memperoleh imbal hasil menarik. 


Baca juga: Obligasi vs Saham, Investasi Mana yang Lebih Menguntungkan?

Artikel Terkait
image image
Artikel Baru